Casts : Iko Uwais, Joe Taslim, Julie Estelle, Sunny Pang
Tahun 2011 publik Indonesia berbangga karena The Raid, film produksi Indonesia mengharumkan dunia perfilman Indonesia dikarenakan mendapat apresiasi positif dari dunia perfilman internasional dengan memenangkan beberapa penghargaan festival film internasional. Salah satunya di ajang Toronto Film Festival 2011 sebagai film The Cadillac People's Choice Award untuk kategori Midnight Madness. Meski yang bertindak sebagai produser dan sutradara adalah sebagian besar orang luar negeri, The Raid memasang para aktor Indonesia untuk bermain di dalamnya. Dari film inilah nama Joe Taslim dan Iko Uwais melambung sebagai aktor laga. Di tahun 2018 mereka bertemu lagi dalam film action thriller garapan Timo Tjahjanto bertajuk Night Comes For Us yang ditayangkan melalui saluran Netflix. Apakah film ini mampu mengejar bayang-bayang ketenaran The Raid? Baca aja sampai habis point of view dari saya ^-^b
Joe Taslim dan Iko Uwais bertemu lagi dalam 1 film
The Night Comes for Us bercerita tentang Ito (Joe Taslim) seorang anggota triad yang memutuskan untuk membelot setelah menyelamatkan anak kecil yang harusnya ia bantai bersama keluarga dan penduduk desa. Keputusannya tersebut membuat Ito harus berhadapan dengan anggota-anggota triad yang ia khinati tersebut. Diantara para triad itu salah satunya adalah Arian (Iko Uwais) yang ternyata merupakan sahabat lama Ito yang sudah dianggap seperti saudara sendiri. Di bawah bayang-bayang triad dengan kekuatan besar kedua sahabat ini harus saling berhadapan. Apakah yang akan terjadi dengan mereka? Jawaban dari pertanyaan tersebut bisa kalian dapatkan dengan menonton filmnya langsung.
Para triad yang siap merubah Jakarta jadi "kota maksiat" :D
Satu kata untuk menggambarkan film ini, "Brutal". Sepanjang film kita akan disajikan adegan-adegan perkelahian dengan unsur gore yang sangat tinggi. Hal ini memang bukan sesuatu yang baru. The Raid sudah melakukannya terlebih dahulu dan memang menjadi daya tarik tersendiri. Pengambilan angle-angle gambar di film ini juga menambah kesan ngeri.
Bagi yang ga kuat liat darah mending jangan nonton film ini
Daya tarik tersendiri juga didapatkan dari para casts yang terlibat dalam film ini. Mulai dari Julie Estelle, Dian Sastrowardoyo, Abimana Aryasatya, Morgan Oey dan sederet nama besar lain. Dan mereka semua jago berkelahi -_-a. Dikarenakan banyak aktor dan aktris yang sebenarnya ga punya basic bela diri, beberapa adegan perkelahian terlihat agak kaku dan sedikit cringe.
Dian Sastro jadi bad girl. woow..
Sebenarnya film ini datang dengan hype tinggi. Tidak ditayangkan di bioskop tetapi ditayangkan melalui platform OTT yang paling populer saat ini, Netflix. Berharap suguhan film action berkualitas layaknya The Raid sebagai tolok ukur film sejenis tetapi sayangnya justru film membosankan yang didapatkan. Paling tidak itu yang saya rasakan selama kurang lebih 2 jam penayangan. Film ini tidak lebih hanya sekedar film action dengan bumbu-bumbu thriller dan unsur-unsur gore yang brutal. Cerita yang ditampilkan sangat dangkal dan hanya dipermukaan saja. Tidak ada motivasi yang jelas dari tindakan masing-masing karakter seperti contohnya alasan Ito menyelamatkan si gadis kecil yang orang tua nya dibantai. Bahkan hubungan Ito dan "mantan pacar" Shinta terlihat seperti drama yang dipaksakan.
Dramanya "kentang"
Jika harus menganalogikan ke bentuk genre lain, The Night Comes for Us tidak lebih layaknya film bokep bercerita dengan durasi 2 jam :D . Tidak ada keharusan untuk mengerti jalan ceritanya, yang penting suguhan utamanya yaitu "adegan panas". Sama halnya dengan film ini, hanya mengedepankan aksi-aksi pertarungan penuh darah tanpa meninggalkan kesan di sisi cerita. Apalagi karakter Ito di sini digambarkan sangat over power sehingga pertarungan demi pertarungan terasa jadi membosankan.
Rambo versi bela diri. IYKWIM :D
Walaupun film ini tampil tidak sesempurna yang diharapkan, tetapi film ini wajib kalian tonton terutama kalian yang suka film dengan genreaction thriller berdarah-darah. Saya beri nilai 6,5/10 untuk film ini.
Writers : Joseph Stefano (screenplay by), Robert Bloch (based on the novel by)
Casts : Anthony Perkins, Janet Leigh, Vera Miles, John Gavin, Martin Balsam, John McIntire
Film tahun 1960. Melihat angka 1960 pasti yang terbayang oleh kalian adalah film jadul hitam putih yang kuno dan cringe dan ga sebagus film era sekarang dimana teknologi perfilman sudah sangat canggih. Saya sendiri datang dengan perasaan skeptis sebelumnya, tetapi berakhir dengan perasaan takjub setelah menonton film garapan sutradara Alfred Hitchcock ini.
Salah satu film thriller terbaik yang pernah saya tonton
Alasan untuk menonton film ini pun sebenarnya karena ingin memulai serial Bates Motel yang diperankan Freddie Highmore. Bates Motel sendiri merupakan cerita prekuel dari film Psycho. Psycho menceritakan kisah si skretaris cantik Marion Crane (Janet Leigh) yang melarikan uang perusahaannya sebesar $40.000. Dalam pelariannya Marion memutuskan untuk menginap di penginapan sederhana bernama Bates Motel yang dikelola oleh Norman Bates (Anthony Perkins) dan ibunya yang tinggal di rumah besar di belakang motel. Keputusan Marion untuk menginap di Bates Motel ternyata keputusan yang salah karena di sini lah Marion menemui ajalnya, dibunuh oleh sosok psikopat. Siapakah sosok psikopat tersebut? jawabannya bisa kalian temukan dengan menonton film nya langsung.
Pembunuh "psikopat"
Psycho dianggap sebagai film terbaik karya Alfred Hitchcock. Psycho juga diklaim sebagai salah satu film horor paling berhasil dan menjadi penanda dalam genrenya. Setiap adegannya jadi melegenda dan banyak yang telah ditiru atau diparodikan. Bukan tanpa alasan film ini mendapat banyak puja-puji. Selama 109 menit penonton dibuat untuk berfikir dan menebak apa yang akan terjadi (disarankan menghindari spoiler untuk mendapatkan esensi film ini secara lebih optimal). Setiap adegan-adegan thrill ditemani backsound music yang tidak kalah menegangkan membuat detak jantung meningkat dan memunculkan kengerian tersendiri.
Walaupun tidak se-gore film-film thriller modern, Psycho tetap bisa membuat kengerian tersendiri
Salah satu adegan legend di film ini adalah adegan pembunuhan di kamar mandi. Adegan yang paling memorable, mengejutkan, sekaligus membuat penasaran bahkan menjadi tolok ukur dan insparasi untuk film-film thriller yang muncul setelahnya bahkan di era modern saat ini.
Adegan pembunuhan di kamar mandi yang melegenda
Keputusan Hitchcock menggunakan format film hitam putih juga turut andil dalam memberikan suasana menegangkan. Meski sebenarnya Hitchcock mengaku bahwa alasan mengapa film ini berformat hitam putih adalah untuk menekan budget film serta mengurangi unsur gory dalam film. Hasilnya, film ini 'hanya' berbudget US$800.000, namun berpendapatan berkali-kali lipatnya, yaitu di atas angka 40 juta, dalam dollar tentunya.
Format hitam putih justru membuat film ini jadi lebih horror
Terlepas apakah kalian suka atau tidak menonton film jadul. Menurut saya film ini adalah film yang wajib ditonton terutama bagi pencinta horror thriller. Saya beri nilai 9/10 untuk film legend ini.
Akting pemeran-pemerannya terutama Anthony Perkins yang patut diacungi jempol